terbukti menghasilkan uang

Jumat, 09 September 2011

Cantik Turunan

Sinar mentari masih terasa lembut di kulit. Warga desa sudah memulai kehidupannya sejak sebelum subuh tadi. Sekarang tanaman hijau sudah mulai terlihat jelas, tak segelap waktu shubuh.  Anak-anak sekolah masih lalu lalang di depanku yang sedang asyik memotong rumput.
Aku mengucek-ngucek mataku untuk memastikan apakah yang kulihat benar. Sambil terus memotong rumput di halaman rumah, ekor mataku terus mengikuti Mawar AFI yang sedang berjalan ke arah rumahku. Gadis itu kemudian masuk ke halaman yang dipagari oleh tanaman hijau, melangkahkan kaki menuju pintu rumah yang terbuat dari kayu, kemudian duduk di ruang tamu. Dari luar rumah, kulihat Mawar lagi asyik ngobrol ini itu sama ibu, akrab sekali.
”Kok tehnya manis banget, Bu. Gula lagi murah ya?” Tanya mawar ramah, sembari meletakkan kembali gelas teh yang ada di tangannya, ke meja bundar di depannya.
“Ah, Nak Mawar bisa aja. Kamu gak tau ya kalau bapaknya Dimas lagi kena kencing manis?”
“Oh, jadi ini jatahnya Bapak yang gak dipake ya? Jadi Mawar makan sisa neh ceritanya?” Mawar semakin sok akrab, matanya berpadu dengan mata ibu.
“Enggak gitu, berhubung bapaknya Dimas lagi kencing manis, jadi ibu gak perlu beli gula lagi. Kan cukup dengan kencing bapak minuman udah manis” kata bu Dewi, ibuku, santai. Dan seketika bermuncratanlah  air teh dari mulut Mawar. Kaos ketat biru muda yang dipakainya basah. Ibu cekikikan menahan tawa.
Aku semakin tidak mengerti. Kenapa mereka sampai bisa seakrab itu. Kucubit pipiku sendiri. “Aww!!! Sakit! Ternyata bener aku gak lagi mimpi”. Setelah aku yakin bahwa itu bener-bener Mawar, aku memberanikan diri ikut nimbrung di forum yang gak resmi itu. Setelah meletakkan gunting rumput yang ada di tanganku, Dengan langkah malu-malu, aku beranjak masuk ke dalam rumah.
“Nak Mawar, ini loh anak saya, Dimas. Gimana, ganteng kan?”
Ibu langsung ngenalin aku setelah aku duduk di sampingnya. Mawar tak kalah agresif, secara spontan tangannya menjulur ke arahku. Dengan pandangan mata yang tertunduk, kurapatkan kedua tanganku di depan dada.
“Maaf, kita bukan muhrim,  nggak boleh salaman,” aku mantap. Walau terkesan agak sok manis. Gadis berkaos biru muda di depanku ini cemberut. Rambutnya yang tergerai sesekali ditiup oleh kipas angin yang bergerak memutar. Ibu membelakkan matanya ke arahku, cemberut di wajahnya semakin menampakkan keriput-keriput halus yang menggores wajahnya yang menua.
“Dim, kenapa tidak salaman? Nak Mawar ini calon istrimu”
            ‘Hah???!!!” Seketika telingaku seperti di kerumunin segerombolan tawon. Berdengung-dengung.
“Ca..ca..lo..n is..is..tr..i? ya..yang ben..bene…r, Bu? Ja..jangan b..berca..ca..da deh..Bu?!” aku terbata.
“I..i..yya..Di..m” Ibu ikut-ikutan gagap.
“Tap..tapi..d.di..a…ka…ka..n…a..ar..ti..s, Bu?”
Melihat kami bergagap-gagap ria, Mawar mendekatiku, kemudian membisikkan sesuatu di telingaku dengan suara lirih.
“Emang kenapa kalau aku artis, Sayang?”
Bisikan Mawar bukan malah menyebabkan suasana semakin membaik. Yang terjadi malah  sebaliknya. Badanku  panas dingin. Keringat deras mengucur dari sekujur tubuhku. Perutku sakit seketika. Sambil memegangi perut, Aku langsung ngibrit ke kamar mandi. Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala lemas melihat kelakuan anak sulungnya ini.
“Dimaaasss,”gerutu Ibu gemas, “Malu-maluin ibu aja”
“Oh, gak papa, Bu. Mawar malah makin suka” Kata Mawar genit. Gile bener ni anak!
Setelah            beberapa menit, aku kembali ke ruang tamu dengan sempoyongan. Setidaknya sudah agak lega setelah mengeluarkan unek-unek tadi di kamar mandi. Hatiku sudah mulai jernih, tak lagi kalut seperti sebelumnya.
“Okey, aku dah lega. Tapi aku masih bingung kenapa kamu bisa kenal aku? Lagian aku ini anak kampung. Ngapain juga kamu naksir ma aku, kan ada dit, ada Veri, Dicky atau Romi, kenapa tidak sama mereka aja?”
“Oh, itu. Ingat gak waktu kamu ikut audisi Festifal Nasyid. Jujur aku sangat terkesan dengan suara kamu yang mengharukan. Tanpa sadar air mataku  menetes, ingat suara  ponakanku yang masih TK. Sejak itu aku selalu terngiang-ngiang tentang kamu,” Ada sendu di matanya. Sendu yang sebentar lagi akan berganti dengan keceriaan, seceria pagi ini.
Aku hanya bisa tersenyum malu, sambil berkali-kali menelan ludah kecut.  Suaraku seperti suara anak TK? Huh, ini penghinaan berat!
“Oke, Kalau kamu masih bersikeras untuk nikah sama aku, aku punya syarat yang semuanya harus kamu penuhi. Satu aja kamu gak bisa, maka aku gak mau nikah sama kamu.”
 “Apa aja syaratnya? Aku yakin aku pasti bisa” Tantang Mawar optimis.
Sebelum melancarkan serangan, aku membetulkan posisi duduk. Sesekali kuseruput teh hangat bikinan ibu, sejak tadi Ibu tidak mau ikut campur, beliau hanya menemaniku yang sedang ‘ta’aruf’ dengan calon isteriku.
“Yang pertama, aku gak kenal istilah pacaran, bersedia?”
“Maksudnya gimana?” Sambar Mawar mendengar pertanyaan yang aneh itu.
“Ya, karena aku seorang muslim, maka aku akan menjaga diriku dari apa yang dibenci-Nya, termasuk pacaran. Gimana bersedia?”
“Tapi kata siapa pacaran haram?, ada ayatnya?” Mawar mencoba berkelit.
“Kalau ayat yang secara langsung mengatakan Sesungguhnya Pacaran itu Haram, memang ga ada. Tapi kalau kita kaji secara jujur dan tepat, pasti kesimpulannya : pacaran itu haram!”
“Tapi kan kita ga ngapa-ngapain?” Mawar masih berkelit.
“Masalahnya, Setan yang bikin kita ngapa-ngapain!” kulihat raut tak puas di wajah Mawar, yang konon akan menjadi isteriku.
“Begini, pada awalnya mungkin orang yang pacaran sekedar ketemuan, jalan bareng, dan lain-lain yang belum ada muatan syahwat. Tapi yang namanya syaithan, selalu aja bisa bikin kita kepleset. Lewat sentuhan, lewat pandangan, lewat penciuman, di sana ada setan! Kalau seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, maka yang ketiga setan!” aku menarik nafas panjang, capek juga ngejelasin panjang lebar.
“Berarti Ibu Setan dong? Kan Ibu orang ketiga di antara kita berdua?” tanya Mawar lugu, aseli, kali ini benar-benar lugu, tanpa ada niat menyakiti perasaan Ibu.
“Kurangajar! Masa Ibu dibilang setan, maksudku gini. Kalau kita berduaan tanpa ada mahram si perempuan, maka kita pasti bakal dijerumuskan syaithan, sedikit demi sedikit”
“Mahram? Apa lagi tuh?”
“Susah ngejelasinnya, soalnya aku ga hapal. Tapi yang jelas, mahram itu seperti Ibu, ayah, adik, kakak, paman, bibi, dll. Tapi aku ga hapal semuanya, kamu cek aja di al-Qur’an, kalo ga salah surah An-Nur, kalo bukan ayat 30, berarti ayat 31”
“Oh...gitu, ya udah deh, syaratnya aku terima. Kita ga kenal pacaran, takut dosa!” Mawar menyetujui dengan mantap.
Alhamdulillah, satu ilmu tersampaikan.
“Syarat yang kedua, karena kamu seorang muslimah, aku gak mau kamu membuka aurat sama laki-laki lain, termasuk ke aku, kecuali setelah kita menikah nanti. Gimana?”
“Kalau untuk yang ini aku pikir-pikir dulu deh. Gimana aku mo cari makan kalau nutup aurat? kamu kan tau  kerjaanku sebagai artis?” bantah Mawar.
“Nah, justru itu masuk ke syarat selanjutnya. kamu harus berhenti jadi artis, dan kita buka bisnis baru, jualan lontong! Gimana?!”
“A..pa? jualan lontong? Gak salah denger neh?” Mawar makin bingung. “Emangnya kenapa kalau aku masih jadi artis? Waduh, syaratnya yang gampang-gampang aja dong?”
Melihat Mawar kelabakan dengan persyaratan yang ditawarkan, aku makin yakin kalau pertunangan kami akan gagal. Di mataku, terbayang impian untuk menikah dengan seorang gadis shalihah, yang berjilbab rapat, menjaga pandangan, cantik, pinter, keturunan orang baik-baik lagi. Dan dalam bayanganku, orang itu adalah Linda, mantan pacarku semasa SMA, yang kini telah bertaubat. Tapi ternyata tidak, Mawar juga menyanggupi syarat ke dua dan ketiga ini. Aku bener-bener puyeng tujuh keliling. Sekarang yang terbayang di pikiranku justeru sebaliknya, menikah dengan seorang artis, kehidupan yang glamour, wartawan infotainment, kawin cerai, selingkuh, dan permasalahan artis yang lainnya.
“Emm.. kalau gitu syarat keempat, kamu mesti jawab tebak-tebakanku, gimana?”
“Apa tebakannya?” Tantang Mawar.
“Gimana cara ngebedain serigala buta sama yang gak buta dari aumannya?”
Mawar puyeng. Kepalanya berputar-putar, kunang-kunang berhamburan dari matanya. Kayaknya kali ini dia bener-bener gak bisa memenuhi persyaratannya. Buyar sudah harapannya untuk menjadi isteriku, isteri seorang Dimas Alfiannor, lelaki yang menurutnya shalih dan bisa membimbingnya.
“Oke deh, aku nyerah. Biarin deh gak jadi nikah sama kamu”
Aku tersenyum puas,
“Padahal jawabnya gampang banget, kalau serigala ga buta, aumannya gini Auuuuuu........., kalau serigala buta, aumannya Auuuuu Ah Gelap....” seketika meledaklah tawaku dan Ibu, tertawa di atas penderitaan Mawar yang batal menikah denganku. Air mata tumpah tak terbendung dari matanya yang dihiasi bulu-bulu lentik. Tangan kanannya meraih tas hitam kecil di atas meja di depannya, kemudian beranjak berlari. Meninggalkan kami berdua.

Trilililiiiiit….trilililiiit….trilililiiitt…
Rington HP  memanggil. Aku terbangun dari tidur pulasku. Ternyata pengalamanku bersama Mawar tadi hanya mimpi, mimpi yang nyaris sempurna, mungkin. Kenapa tadi aku nolak lamaran Mawar? Setelah merapatkan selimut ke kepala, aku memejamkan mata,
 “Mawar…aku setujuuuu!!!”
Tapi semua udah telat. Mimpi bersama Mawar telah berlalu.
Kantuk telah pergi. Kuraih HP butut yang bertengger resah di meja belajar. Setelah menekan tombol baca. Terlihatlah pesan di layar:

Dimas, aku baru check up ke dokter. Katanya aku kena penyakit turunan, namanya beautiful sick, alias penyakit cantik turunan. Kalian tenang aja, penyakit itu gak nular kok, cuma gak bisa sembuh aja.

Pengirim: Sinta

+628164518xxx
Beautifulsick? Afaan tuh? Fannuuu? Atau malah kuraff? Belum mampu aku menemukan jawabannya, tiba-tiba HP-ku berdering lagi.
”Ngomong lagi dong sayang…,aku mau ngomong neh…” Terdengar suara yang juga tak kalah lesunya dari seberang sana.
“Nih ..ngomong…” jawabku jengkel. Ada-ada aja. Malam-malam gini gangguin orang. Huh! Mentang-mentang nelpon gratis. Bukannya dipake buat hal yang bermanfaat, malah ngerjain orang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar